Asah Kompetensi Guru Inklusi, MIM 2 Badas Hadirkan Pakar dari UM dalam Seminar Nasional
KEDIRI - Meneguhkan komitmen sebagai lembaga pendidikan ramah anak, Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) 2 Badas menggelar seminar intensif bertajuk "Peningkatan Kompetensi Guru Pendamping Khusus (GPK)" pada Rabu (29/04/2026).
Acara yang berlangsung di ruang guru ini diikuti oleh sedikitnya 70 pendidik dari berbagai sekolah inklusi se-Jawa Timur. Kehadiran peserta yang melampaui sekat wilayah ini menunjukkan tingginya urgensi pemahaman mendalam mengenai pola didik anak berkebutuhan khusus (ABK) di lingkungan madrasah dan sekolah umum.
Menghadirkan Perspektif Ahli
MIM 2 Badas menggandeng akademisi dari Universitas Negeri Malang (UM), **Ediyanto, M.Pd., Ph.D.**, sebagai pemateri utama. Dalam paparannya, Ediyanto menekankan bahwa menjadi guru inklusi bukan sekadar profesi, melainkan panggilan untuk memberikan pelayanan kemanusiaan yang presisi.
"Sebagai guru inklusif, kita wajib memberikan pelayanan terbaik. Memahami teori itu penting, namun menguasai petunjuk pelaksanaan pendidikan inklusif di lapangan adalah kunci agar anak-anak mendapatkan hak pendidikan yang setara," tegas Ediyanto.
Ia juga menggarisbawahi pentingnya penguasaan berbagai kompetensi spesifik, mulai dari:
* Penyusunan kurikulum yang adaptif sesuai kebutuhan anak.
* Teknik penanganan perilaku, seperti menghadapi anak saat mengalami tantrum.
* Asesmen berkelanjutan untuk memantau perkembangan siswa.
Simulasi Riil: Menyelami Dunia Tunarungu
Hal yang membuat seminar ini berbeda adalah adanya sesi **praktik asesmen langsung**. Panitia menghadirkan tiga siswa tunarungu sebagai partisipan. Para peserta diajak melakukan observasi dan asesmen untuk memetakan kebutuhan pendidikan yang tepat bagi siswa dengan hambatan pendengaran.
Sesi ini memicu diskusi hangat dan berbagi ide antarpeserta mengenai praktik baik (*best practice*) yang bisa diterapkan di lembaga masing-masing guna membangun ekosistem pendidikan inklusif yang ideal.
Apresiasi dan Harapan Masa Depan
Kepala MIM 2 Badas Luky Fajarianto mengungkapkan rasa syukur dan bangganya atas terselenggaranya kolaborasi ini. Ia menilai bahwa peningkatan kompetensi GPK adalah investasi jangka panjang bagi kualitas pendidikan di madrasahnya.
"Kami sangat berterima kasih kepada Universitas Negeri Malang atas dukungan penuh melalui program ini. Peningkatan kapasitas guru adalah syarat mutlak agar layanan inklusi di madrasah kami terus berkembang dan memberikan dampak nyata bagi siswa," pungkas Luky.
Pendampingan Tim Ahli
Dalam acara ini juga didampingi oleh Psikolog dari Surabaya. Normalia sage ,M.Psi selalu tim ahli program inklusi MIM 2 Badas dari. Ia mengapresiasi terselenggaranya acara ini. Menurutnya dari pertemuan yang singkat ini, setidaknya dapat memberikan jembatan bagi Guru Inklusi untuk saling bersilaturahmi dan berbagi pengalaman serta menjawab tantangan atau hambatan yang dialami di lapangan.
Humas MIMDA

