Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Fajar Berkah di Jogokariyan: Mengukir Kenangan Mabit Terakhir Kelas 6


Sabtu pagi, 30 Mei 2026. Setelah menempuh lima jam perjalanan dari Kediri, langkah kaki kami akhirnya menapak di tanah Jogjakarta. Lelah fisik seketika menguap, berganti buncah bahagia karena hari ini kami berkesempatan mendampingi anak-anak kelas enam dalam agenda spesial: Mabit dan Rihlah di Jawa Tengah.

Destinasi pertama kami adalah Masjid Jogokariyan, tempat ibadah legendaris yang masyhur dengan prinsip "Saldo Nol Rupiah"-nya. Begitu tiba, kehangatan langsung menyambut kami. Pak petugas keamanan dengan sangat ramah mengarahkan rombongan untuk beristirahat sejenak sebelum memulai agenda ibadah.

Tepat pukul 03.00 WIB, alarm kehidupan berbunyi. Kami bergegas bangun dan bersiap menyambut panggilan-Nya. Di bawah imaman Bapak Rokhani, kekhusyukan malam itu pecah dalam lantunan doa dan sujud qiyamul lail yang syahdu.

Usai tahajud, kebersamaan berlanjut dengan sarasehan hangat di serambi masjid. Kepala Madrasah kami, Pak Luky, membuka acara sekaligus memberikan suntikan motivasi yang membakar semangat.

"Meski hari ini adalah mabit terakhir bagi anak-anak di sekolah, Bapak berharap pembiasaan baik ini tidak berhenti di sini. Teruskan secara mandiri di rumah masing-masing," pesan Pak Luky tegas namun penuh harap.

Puncaknya adalah saat azan subuh berkumandang. Suasana berganti luar biasa istimewa. Masjid penuh sesak oleh jemaah yang hadir dengan semangat membara—sebuah pemandangan yang menggetarkan hati. Sebagai penutup pagi yang sempurna, kami memanjakan lidah dengan berburu aneka kuliner lokal yang dijajakan hangat oleh warga di sekitar masjid. Sebuah awal perjalanan yang penuh berkah!