Mengukir Kenangan Senja di Jantung Jogja
Usai seharian penuh keseruan berpetualang di Sungai Elo dan menjelajahi kemegahan sekitar Borobudur, perjalanan kami berlanjut menuju ikon legendaris Kota Pelajar: Malioboro. Sabtu sore (30/06/2026) itu, kami bersiap melukis memori indah di jantung kota yang sarat sejarah ini.
Petualangan sore dimulai saat bus pariwisata kami merapat di Terminal Ngabean. Dari sana, kami beralih menaiki shuttle car ikonik bernama "Si Thole"—kendaraan ramah lingkungan yang khusus mengantar wisatawan menuju kawasan Malioboro. Cukup dengan tiket seharga sepuluh ribu rupiah, mobil unik yang berkapasitas sekitar dua puluh penumpang ini membawa kami membelah jalanan Jogja.
Hanya butuh waktu sepuluh menit, kami pun tiba dan turun di halte Malioboro, tepat di sebelah barat Gedung BNI. Sembari menunggu seluruh anggota rombongan berkumpul, kami menyeberang jalan menuju Titik Nol Kilometer. Suasana sore itu sangat meriah. Maklum, karena bertepatan dengan malam Minggu, Malioboro dipadati oleh lautan manusia yang ingin menikmati atmosfer Jogja. Tak ingin kehilangan momen epik ini, kami pun langsung mengabadikannya dengan foto bersama.
Setelah berkumpul, rombongan mulai berpencar dalam kelompok-kelompok kecil untuk mengeksplorasi Malioboro sesuai keinginan masing-masing. Ada yang berburu oleh-oleh khas, suvenir unik, hingga kaus Jogja. Ada pula kelompok yang memilih menonton bioskop di dekat Museum Sonobudoyo. Sementara itu, beberapa siswa dan wali murid lebih memilih bersantai, duduk-duduk menikmati ramahnya senja Malioboro ditemani semangkuk hangat Wedang Ronde khas Jogja. Manis, hangat, dan tak terlupakan.

.jpg)
